Internasional,MA – Urat nadi perdagangan energi global di Selat Hormuz kembali menjadi episentrum benturan geopolitik yang memanas.
Saling klaim antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan otoritas Iran mempertegas jalur pelayaran strategis tersebut masih terjebak dalam pusaran konfrontasi bersenjata serta gertakan diplomatik.
Menanggapi klaim Donald Trump yang menyebut Selat Hormuz dapat dibuka kembali “secara harfiah besok”, Teheran langsung melancarkan serangan balik verbal.
ADVERTISEMENT
. SCROLL TO RESUME CONTENT
Penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran sekaligus mantan Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohsen Rezaei, menepis mentah-mentah optimisme Gedung Putih tersebut.
“Saya mendengar kemarin Tuan Trump mengatakan kita memiliki operasi yang lebih besar daripada Perang Dunia II. Ya, Anda sedang bermimpi, Tuan Trump. Anda berada dalam mimpi dan fantasi. Tetapi mengapa itu tidak dilaksanakan? Mengapa orang-orang Anda tidak menginjakkan kaki di lapangan?” cetus Mohsen Rezaei dalam wawancara televisi yang dikutip Viory dan Tehran Times.
Rezaei menegaskan Teheran tidak akan membiarkan AS membuka koridor pelayaran baru di luar skema kontrol Iran.
Ia mengancam akan menghantam setiap pangkalan tempur maupun kapal induk AS yang disiagakan.
Meski melontarkan ancaman tajam, Rezaei mengklaim Iran tidak bermaksud memperluas skala pertempuran dan masih membuka opsi lalu lintas kapal dagang melalui koridor khusus yang disepakati bersama Oman.
Sikap keras Iran meletus menyusul ancaman destruktif Trump yang diunggah via akun Truth Social.
Donald Trump menegaskan Pentagon siap menghancurkan fasilitas infrastruktur vital di Iran jika aksi pembajakan kapal di Selat Hormuz berlanjut.
“Mulai sekarang, setiap kali Republik Islam Iran menembaki kapal di Selat Hormuz, baik dengan rudal, roket, drone, maupun senjata lainnya, Amerika Serikat akan membom dan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik,” gertak Trump merespons pemblokiran jalur minyak tersebut.
Langkah keras Washington didukung oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang menilai dominasi penuh satu negara atas jalur navigasi internasional akan menciptakan preseden keamanan yang sangat berbahaya bagi kawasan dunia.
Di tengah silat lidah para pemimpin negara, Peneliti Senior Indo Pacific Strategic Intelligence, Aisha Kusumasomantri, menilai klaim optimis Trump sama sekali tidak mencerminkan realitas faktual di perairan Teluk.
“Saya kira tidak. Itu sudah jelas. Iran masih memegang penuh Selat Hormuz,” tegas Aisha dalam wawancara program Kompas Malam di Kompas TV pada Selasa (4/8/2026).
Aisha menguraikan bahwa posisi Iran atas Selat Hormuz dilindungi oleh payung hukum Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani AS dan Iran pada 17 Juli lalu. Sumber berita: Tribun






